welcome to the psychology of learning mathematic world. Let's have fun with our mathematical thinking. If you have ideas and anything interesting about mathematics, let us share together. KHARISMA MEI R
RSS

Sunday, June 19, 2011

Balada Otak Kiri dan Otak Kanan Menggapai Mitos “Pamrih Dalam Bersedekah”

Beramal (bersedekah) koq pamrih(berharap). Boleh ga sih?

Kira-kira beginilah keberatan orang-orang perihal pamrih dalam beramal:

- “Nggak boleh pamrih dalam beramal!”

- “Nggak boleh berharap!”

- “Nggak boleh meminta!”

- “Itu namanya tidak ikhlas”

Ow, tunggu dulu. Apa iya benar seperti itu??

Sebenarnya, inilah mitos dalam beramal. Bahkan mitos terbesar abad ini. Karena setidaknya ada beberapa alasan untuk pamrih, berharap, dan meminta dalam beramal.

Nah, hal inilah yang membuat otak kiri dan otak kanan kadang-kadang suka berdebat.

Daripada berdebat terus ga selesai-selesai, akhirnya Otak Kanan mengundang Epistemologi, Aksiologi, dan Ontologi.

klo begitu, mari kita simak diskusi mereka yang mengkaji hal ini secara filsafat. Hehe….

(sepertinya sih sudah secara filsafat, kan masih belajar)

Otak Kiri:

Hei otak kanan, kenapa kamu memanggil epistemologi, aksiologi, dan ontologi kesini? Apa hubungan mereka dengan mitos yang sedang kita bahas?

Otak Kanan:

Lho, kemaren kan kita sudah belajar filsafat di perkuliahannya Pak Marsigit, Beliau mengatakan bahwa “Ontologi mempelajari hakekat atau makna segala sesuatu. Epistemologi adalah metodenya. Sedangkan Aksiologi adalah normanya. Tiadalah metode berpikir tanpa obyek berpikir. Metode berpikir adalah epistemologi, obyek berpikir adalah ontologi, maka tiadalah dapat dipisahkan antara epistemologi dan ontologi”

Jadi, daripada nanti kita terjebak oleh mitos ini, mending kita tanya aja ke mereka.

Otak Kiri:

Oke, halo Ontologi. Apa bisa kamu jelaskan perihal ikhlas dalam beramal/sedekah?

Ontologi:

Ow, tentu saja. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung dari apa yang kau pikirkan dan yang kau yakini. Ikhlas ya ikhlas itu sendiri, seberapa jauh kau bisa memahami dan merasakan perihal ikhlas.

Otak Kiri:

Lantas, bagaimana dengan riya(pamer)?

Epistemologi:

Bersedekah dan Riya, itu sih sudah bisaa. Walaupun itu jelas-jelas tidak baik. Tapi semua tergantung niatnya, pelihara niat. Terkadang orang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, mau bersedekah banyak mikir, dan terkadang sering terlintas dalam pikirannya yang mengatakan “ah,tempatnya rame, klo sedekah disini banyak yang lihat nanti dikira pamer, sedekah ga y? ah, daripada ga ikhlas, ga usah aja deh”, klo begitu terus kapan sedekahnya? Hehehe

Aksiologi:

Betul sekali, yang penting adalah niat dan bagaimana caramu bersedekah. Terang-terangan atau diam-diam, bareng-bareng atau sendiri-sendiri, tetap saja bersedekah. Pelihara niat. Kalaupun ada terlintas perasaan macam-macam, yah sudah. Istighfar saja.

Otak Kanan:

Ow, jadi boleh sedekah diam-diam. Boleh juga sedekah terang-terangan. Yang tidak boleh itu, terang-terangan tidak bersedekah y? hehehe…

Kalu begitu aku mau sering-sering bersedekah biar cepat kaya!

Otak Kiri:

Hush, klo sedekah ga boleh berharap! Betul kan epistemologi, ontologi, dan aksiologi?

Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi:

Kami tidak mengatakan itu betul sepenuhnya ataupun salah total, semua itu tergantung niatmu. Daripada jadi bingung, lebih baik simak betul-betul niy penjelasannya.

Pada saat kamu bersedekah dengan berharap, dengan meminta. Nah, ketahuilah kali ini kamu akan memperoleh tiga keutamaan sekaligus. Apa saja?

- pertama, keutamaan bersedekah

- kedua, keutamaan berharap. Karena berharap itu sama dengan meminta. Meminta itu sama dengan beribadah. Beribadah itu berpahala.

- Ketiga, keutamaan iman. Ketika Allah menjanjikan sesuatu apakah itu kemudahan di dunia maupun kemudahan di akhirat, kemudian kamu berharap ditepatinya janji tersebut, itu bukan saja boleh, tapi harus! Karena itulah iman! Kamu yakin kepada Allah! Kamu yakin akan janji-janji Allah! Dalam kalimat lain, Ust. Yusuf Mansur juga mengatakan demikian.

Otak Kanan:

Waaah, betapa menyenangkan dan menenangkan kalau kita berharap dalam beramal. Bukan sekedar beramal.

Otak Kiri:

Koq gitu sih?

Otak Kanan:

Ya gitu, lha bukannya kamu juga sudah tahu kan, Allah pernah berfirman, “Wahai anak Adam, bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada-Ku. Niscaya Aku akan memenuhi dada engkau dengan kecukupan dan aku akan menanggung kefakiran engkau. Bilamana engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi dada engkau dengan kesibukan dan Aku tidak akan menanggung kefakiran engkau.”

Itu artinya, dengan ibadah yang sungguh-sungguh, kita boleh berharap dicukupkan dan dijauhkan dari kefakiran. Jadi, sah-sah aja donk klo ak minta kaya, iya g?

Otak Kiri:

Masa cuma dengan sedekah dan berharap bisa kaya?

Otak Kanan:

Wah, kau ini. Ya ga cuma itulah. Kita juga harus doa, ibadah, dan ikhtiar. Hee.. mana ada makan siang gratis, mana ada orang cuma tidur sambil berharap jadi kaya, kecuali klo punya jinnya Aladin, hehehe…

Otak Kiri:

Lha ngomong-ngomong, kenapa sih kamu pingin kaya?

Otak Kanan:

Pingin aja, emang ga boleh? Hehee.. klo kaya kan enak, bisa haji, bisa sedekah, bisa bangun masjid, bisa bantu tetangga, dll. Kan tadi epistemologi dah bilang, yang penting niatnya. Dan sebenarnya kaya itu hanya sekedar alat, alat untuk ibadah, ya toh?

Lagipula, berapapun besarnya dan apapun yang kita minta, Allah akan tetap Maha Kaya. Betul?

Otak Kiri:

Wah, jangan sok tahu kamu..

Otak Kanan:

Ehm, bukannya sok tahu, tapi ini beneran. Untuk lebih lengkap dan jelasnya coba deh, kamu baca aja bukunya Ippho Santosa “Percepatan Rezeki”. Bagus banget . . . !!

Otak Kiri:

Ow, gitu ya..ntar deh tak liat dulu, tak pikir-pikir dulu kira-kira bagus apa ngga? Cocok apa ngga buat aku??.

Otak Kanan:

Hehee, oke deh. Tapi daripada kelamaan mikirnya mending langsung take action aja, yuk kita baca buku itu dan perbanyak sedekah!

Otak Kiri:

Mau sih, tapi kayaknya uangku belum cukup, mau buat keperluan, ntar daripada ga ikhlas.. hee..

Otak Kanan:

Wah,kamu ini y… sedekah ga harus nunggu kita kaya dulu, ga harus langsung bisa ikhlas juga, mungkin awalnya terpaksa, selanjutnya biss, dan akhirnya kamu jadi terbisaa. Klo ga dimulai dari sekarang, kapan lagi?

Ontologi:

Yah begitulah, silahkan menjadi bahan renungan masing-masing.

Referensi:

Santosa, Ippho. 2010. Percepatan Rezeki Dalam 40 Hari Dengan Otak Kanan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Suriasumantri, Jujun. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: PT Pancaran Intan Indahgraha.

http://powermathematics.blogspot.com/search?q=epistemologi

Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit (Kamis, 5 Mei 2011)

Wednesday, April 13, 2011

Pikiran adalah Daya

Berawal dari sebuah titik. Kenapa dinamakan “TITIK”? apa itu “TITIK”? apa ini . adalah “TITIK”?
Ya, kenapa kita bisa menyebutkan ini adalah titik, itu adalah titik, ini bukan titik, itu bukan titik. Semua itu hanya karena pikiran kitalah yang mengatakan demikian.

Sains dapat dipegang, sebagian dapat diperdebatkan.
Aristoteles

Segala sesuatu di dunia ini adalah produk dari pikiran kita, sebenarnya tidak ada yang mutlak yang disebut sebagai titik, sebenar-benarnya yang kita katakana titik hanyalah symbol bahwa wujud seperti itu disebut “TITIK”, yang telah disepakati sebelumnya oleh pemikiran para pendahulu kita.
Bayangkan saja jika dari dulu orang terus memperdebatkan apa itu titik, maka sampai sekarangpun yang dibicarakan adalah titik, titik, dan titik. Sedangkan pemikiran yang lain menjadi tidak berkembang atau bahkan tidak ditemukan. Mungkin, karena sebab itu munculah definisi titik, yang merupakan pengertian pangkal. Titik adalah . . . (ada di definisi titik)
Dari sebuah titik itu bisa kita abstraksikan menjadi berbagai macam bentuk.
Titik bisa kita tarik menjadi garis.
Titik bisa kita rentangkan menjadi bidang.
Titik bisa menjadi bangun ruang.
Saat kita mampu memikirkan semua hal itu, itulah yang disebut dengan separuh dunia (1/2 dunia).
Sedangkan dalam kehidupan nyata, titik itu bisa berart orang, gunung, benua, dunia, dan benda lainnya, tergantung bagaimana cara kita melihatnya, dan sejauh mana kita bisa memaknainya. Saat kita melihat bumi dari luar angkasa, yang kita lihat adalah suatu titik, semakin jauh kita memandang suatu obyek, semua obyek itu akan berubah menjadi titik.
Itulah yang dikatakan sebagai separuh dunia yang lain, yaitu saat kita mampu merealisasikan apa yang kita pikirkan.
Namun saat kita mampu berpikir dan menciptakan, itu bukan berarti kita telah menguasai seisi dunia. Atau dengan kata lain ½ dunia + ½ dunia = 1 tidak berlaku.
Kenapa belum bisa dikatakan demikian? Karena dunia ini masih berisi sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, yang mungkin ada masih dalam pikiran setiap manusia, bahkan yang di luar kendali manusia, kebanyakan orang mengatakan bahwa itu keajaiban (kuasa Tuhan). Karena memang benar sekali “There’s no impossible thing in this world”
Padahal sesuatu yang “ada” saja belum tentu bisa kita jangkau semuanya, apalagi sesuatu yang baru “mungkin ada”.
Yah, itulah kenapa kita tidak bisa menguasai seluruh dunia seutuhnya. Yang kita dapat, yang kita bisa, yang kita tahu hanyalah separuh dunia.
Penguasa dunia seutuhnya, dan sangat absolute hanyalah Sang Pencipta.
Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi separuh dunia yang kita miliki, kita dapat memaksimalkan potensi dari yang sudah kita miliki, kita dapat merubah frekuensi pikiran kita, dan sebagainya. Semua itu bisa kita lakukan hanya dengan PIKIRAN kita saja.
Pikiran kita adalah kekuatan, kekuatan yang bisa mendatangkan perubahan, kekuatan yang mampu membangun dunia, pikiran adalah kuncinya. Ketika kita mampu mengendalikan pikiran, kita dapat mengendalikan apapun yang terjadi pada hidup kita, dengan batasan keimanan tentunya.
Aalam semesta merespons apapun yang kita pikirkan, karena pada dasarnya alam semesta dan seisinya saling menterjemahkan dan diterjemahkan (Pak Marsigit sering mengatakan bahwa itu yang disebut Hermeneutika) .
Kita bisa mengubah titik menjadi kubus, kubus menjadi rumah dalam kehidupan nyata. Itu semua berawal dari pikiran, pikiran yang mampu memunculkan potensi suatu obyek, karena pikiran memang penuh daya, daya untuk mencipta.
Namun janganlah langsung puas dengan apa yang sudah kita hasilkan, karena bisa-bisa kita termakan mitos.
Kubus bisa menjadi rumah, rumah menjadi istana, istana menjadi Negara, Negara menjadi benua..dan seterusnya…
Selalu temukan logos di dalam dirimu, ubah frekuensi pikiran kita dari mitos ke logos, selalu.. selalu.. dan selalu, setiap kita akan terjebak dengan mitos. Karena dengan demikian, kita bisa berkembang dan terus belajar, dari sebuah pertanyaan yang menghasilkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Jangan puas dengan satu ketetapan saja, kecuali itu adalah Hukum Ketetapan Tuhan.

Kuliah Filsafat Pendidikan matematika oleh Dr. Marsigit
Kamis, 7 April 2011
Ruang 105, FMIPA-UNY.

Sunday, December 20, 2009

Tha Power of Category and Networking 2

What is psychology?, Who is psychology?, How?, Why, and so on. Available that's in our minds when hearing the word "psychology". And in essence who we are thinking this is psychology, psychology is what is in our minds, how much we know about psychology.
So in fact what was there in our minds?
According to Immanuel Kant, 1771, something that is in our minds is:
1. Quantitative
2. Qualitatif
3. Category
4. Relationship

*Quantitative: we know that from the little we already know a lot and a bit. Although we do not know how much the exact number, but at least we can tell which is great and which less. And what could be the object of research for us is since when does a child know then umber?

* Qualitatif: not much different from the quantitative, qualitative basis of the universal, partial, and the unique concerns of the whole, in part, and something unique.

* Category: basic principles of the simplest category is A = A (which is an identity category). For example: I was me. B is not A (is a contradiction). For example: I am a lecturer, of course you can not just believe in that statement because to know the truth of these things you have to prove it first. Category that concerns matters ranging from phenomena to noumena. In the following order: the phenomenon of-ideas-knowledge-reference-noumena.

* Relationship: in this life would not be separated from the law of reciprocity, which mathematically can be written as the implications and biimplikasi (if so, if and only if). Surely there will be a relationship between one another. Nor in this world that are not related. If there is a will there is B, if A is B if and only if A is B and B is A. Human life must have a relationship and movement, whether horizontally, up or down? All that come and go because life is like a spinning wheel.

Further description of the categories is we know that the media is also a method of thinking that sometimes we are not aware of. For example only in formulating a paper "The Power of Category and Networking" of course we will detail and what we think is the definition of categories, what is the definition of networking?, What parts and what their functions, only then we can formulate a relationship between categories and networking. So from these thoughts we can come up with ideas and then began to work up the paper.
With us categorize things will be easier in preparing a study because it will result in allegations that we can use to find a fact.

While the relationship with the networking categories are as follows:
In metaphysics (in particular, ontology), different types or ways of being called a category of being or just categories. According to the Aristotelian tradition, the creature is anything that can be said to be in the various meanings of this word. Therefore, to investigate the category of being is to determine the most fundamental sense in which things can be said. A category, more precisely, is one large class thing - 'something' here means anything that can be discussed and can not be reduced to other classes.

To describe the category that humans need to care about the continued hope. Some of the desired scheme of ontological categories that more than complete, based on or even acknowledge there is logically impossible object. Alexius Meinong category scheme is a case in point. The difference between such categories, in a category or apply them, called the ontological distinction. Comprehensive scheme to make much difference.

In discussing this category, we certainly will not be released to talk about networking. And the network itself can not escape the social life around us.

A social network is a social structure made of individuals (or organizations) are called "nodes", which tied (connected) with one or more specific types of interdependency, such as friendship, kinship, financial exchange, dislikes, sexual relations, or relationship beliefs, knowledge, or prestige.

Social network analysis views social relationships in terms of network theory which consists of nodes and ties. Node is the individual actors in the network, and the bonding relationship between the actors. Generated graph-based structures are often very complex. There will be many kinds of relationships between nodes. Research in several academic fields has shown that social networks operate on many levels, from families up to the level of nations, and play an important role in determining how to solve the problem, run the organization, and the extent to which individuals succeed in achieving their goals.

In its simplest form, a social network is a map of all the relevant nodes among all nodes being studied. Networks can also be used to measure social capital - the value that an individual get from social networks. This concept is often presented in a social network diagram, where the node is a point and tie the line.

Strength in people who are classified would be lower compared with those who are in a network. Network forming a strong man because have the same degree in the collection. They look after each other. And when one of them lost, then all of the community will feel lost. That's the power of categories and networks of human life in the ecosystem.


Http://en.wikipedia.org/wiki/social_networksm
Http://en.wikipedia.org/wiki.category

The Power Of Category and Netwoking

In metaphysics (in particular, ontology), different types or ways of being called a category of being or just categories. According to the Aristotelian tradition, the creature is anything that can be said to be in the various meanings of this word. Therefore, to investigate the category of being is to determine the most fundamental sense in which things can be said. A category, more precisely, is one large class thing - 'something' here means anything that can be discussed and can not be reduced to other classes.

To describe the category that humans need to care about the continued hope. Some of the desired scheme of ontological categories that more than complete, based on or even acknowledge there is logically impossible object. Alexius Meinong category scheme is a case in point. The difference between such categories, in a category or apply them, called the ontological distinction. Comprehensive scheme to make much difference.

In discussing this category, we certainly will not be released to talk about networking. And the network itself can not escape the social life around us.

A social network is a social structure made of individuals (or organizations) are called "nodes", which tied (connected) with one or more specific types of interdependency, such as friendship, kinship, financial exchange, dislikes, sexual relations, or relationship beliefs, knowledge, or prestige.

Social network analysis views social relationships in terms of network theory which consists of nodes and ties. Node is the individual actors in the network, and the bonding relationship between the actors. Generated graph-based structures are often very complex. There will be many kinds of relationships between nodes. Research in several academic fields has shown that social networks operate on many levels, from families up to the level of nations, and play an important role in determining how to solve the problem, run the organization, and the extent to which individuals succeed in achieving their goals.

In its simplest form, a social network is a map of all the relevant nodes among all nodes being studied. Networks can also be used to measure social capital - the value that an individual get from social networks. This concept is often presented in a social network diagram, where the node is a point and tie the line.

Strength in people who are classified would be lower compared with those who are in a network. Network forming a strong man because have the same degree in the collection. They look after each other. And when one of them lost, then all of the community will feel lost. That's the power of categories and networks of human life in the ecosystem.

Saturday, November 14, 2009

To Uncover The Psychology Phenomenon

There must be some meaning behind an event. Sometimes there are events that happen unexpectedly for no reason. Events that can cause trauma. Trauma is defined here as the feelings or events that demonstrated the absence of a clear explanation / why it happened?
For instance suddenly someone comes to us and give without a good reason, or all of a sudden there was someone who expressed love and say “I love you”, but have not met before. Yes, there are many examples of things that caused the trauma. Trauma is neutral. Trauma can be interpreted to be a bad thing or good all depends on the perspective of each person who experienced it. But most people did think the trauma was identical to the things that bad or unpleasant. All of it was returned again to our understanding of trauma because it requires a readiness (readiness) high at the moment we will follow an activity in order to minimize or avoid the trauma of the trauma.
In addition, we also need to understand the intent behind an event called the motive of the perpetrator. This is very important, especially in the application of mathematics. If someone is applying learning, such as a teacher to student. Course will deal with various obstacles and challenges. Therefore, important for a teacher to make such a prediction or anticipation to anticipate the things that do not want to happen. For example, a teacher wants to teach a concept of differential equation on a farmer in the village. It's not something easy. Required the presence of a spirit and a strong desire to teach because it could be what is wanted is not reached. Farmers will find it difficult to accept these lessons, and eventually leading to trauma. Even the trauma not only on farmers but also the teacher for being very difficult to teach this material to the farmers. Of course, should have the great expectations, experience, expertise, enthusiasm, knowledge, pedagogic, and Andragogy (psychological old men).
In teaching there should be tolerance. Tolerance here means giving the time interval that is not used for anything, including learning to those who taught has time to fix themselves. In addition, teachers also must be able to predict the existence of things that will happen or response from the students about what the teacher teaches. A teacher must also know what action should be taken to then take the next step (determine), that's why it is important to be translated and interpreted by the surroundings. We're back on hermeneutics. This is all that a person has a lot of preparation will the coming of trauma. So that we can receive it well and able to cope. Besides that, trauma can also develop one's awareness of a thing.

BY:
KHARISMA MEI RESIWATI