welcome to the psychology of learning mathematic world. Let's have fun with our mathematical thinking. If you have ideas and anything interesting about mathematics, let us share together. KHARISMA MEI R
RSS

Wednesday, April 13, 2011

Pikiran adalah Daya

Berawal dari sebuah titik. Kenapa dinamakan “TITIK”? apa itu “TITIK”? apa ini . adalah “TITIK”?
Ya, kenapa kita bisa menyebutkan ini adalah titik, itu adalah titik, ini bukan titik, itu bukan titik. Semua itu hanya karena pikiran kitalah yang mengatakan demikian.

Sains dapat dipegang, sebagian dapat diperdebatkan.
Aristoteles

Segala sesuatu di dunia ini adalah produk dari pikiran kita, sebenarnya tidak ada yang mutlak yang disebut sebagai titik, sebenar-benarnya yang kita katakana titik hanyalah symbol bahwa wujud seperti itu disebut “TITIK”, yang telah disepakati sebelumnya oleh pemikiran para pendahulu kita.
Bayangkan saja jika dari dulu orang terus memperdebatkan apa itu titik, maka sampai sekarangpun yang dibicarakan adalah titik, titik, dan titik. Sedangkan pemikiran yang lain menjadi tidak berkembang atau bahkan tidak ditemukan. Mungkin, karena sebab itu munculah definisi titik, yang merupakan pengertian pangkal. Titik adalah . . . (ada di definisi titik)
Dari sebuah titik itu bisa kita abstraksikan menjadi berbagai macam bentuk.
Titik bisa kita tarik menjadi garis.
Titik bisa kita rentangkan menjadi bidang.
Titik bisa menjadi bangun ruang.
Saat kita mampu memikirkan semua hal itu, itulah yang disebut dengan separuh dunia (1/2 dunia).
Sedangkan dalam kehidupan nyata, titik itu bisa berart orang, gunung, benua, dunia, dan benda lainnya, tergantung bagaimana cara kita melihatnya, dan sejauh mana kita bisa memaknainya. Saat kita melihat bumi dari luar angkasa, yang kita lihat adalah suatu titik, semakin jauh kita memandang suatu obyek, semua obyek itu akan berubah menjadi titik.
Itulah yang dikatakan sebagai separuh dunia yang lain, yaitu saat kita mampu merealisasikan apa yang kita pikirkan.
Namun saat kita mampu berpikir dan menciptakan, itu bukan berarti kita telah menguasai seisi dunia. Atau dengan kata lain ½ dunia + ½ dunia = 1 tidak berlaku.
Kenapa belum bisa dikatakan demikian? Karena dunia ini masih berisi sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, yang mungkin ada masih dalam pikiran setiap manusia, bahkan yang di luar kendali manusia, kebanyakan orang mengatakan bahwa itu keajaiban (kuasa Tuhan). Karena memang benar sekali “There’s no impossible thing in this world”
Padahal sesuatu yang “ada” saja belum tentu bisa kita jangkau semuanya, apalagi sesuatu yang baru “mungkin ada”.
Yah, itulah kenapa kita tidak bisa menguasai seluruh dunia seutuhnya. Yang kita dapat, yang kita bisa, yang kita tahu hanyalah separuh dunia.
Penguasa dunia seutuhnya, dan sangat absolute hanyalah Sang Pencipta.
Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi separuh dunia yang kita miliki, kita dapat memaksimalkan potensi dari yang sudah kita miliki, kita dapat merubah frekuensi pikiran kita, dan sebagainya. Semua itu bisa kita lakukan hanya dengan PIKIRAN kita saja.
Pikiran kita adalah kekuatan, kekuatan yang bisa mendatangkan perubahan, kekuatan yang mampu membangun dunia, pikiran adalah kuncinya. Ketika kita mampu mengendalikan pikiran, kita dapat mengendalikan apapun yang terjadi pada hidup kita, dengan batasan keimanan tentunya.
Aalam semesta merespons apapun yang kita pikirkan, karena pada dasarnya alam semesta dan seisinya saling menterjemahkan dan diterjemahkan (Pak Marsigit sering mengatakan bahwa itu yang disebut Hermeneutika) .
Kita bisa mengubah titik menjadi kubus, kubus menjadi rumah dalam kehidupan nyata. Itu semua berawal dari pikiran, pikiran yang mampu memunculkan potensi suatu obyek, karena pikiran memang penuh daya, daya untuk mencipta.
Namun janganlah langsung puas dengan apa yang sudah kita hasilkan, karena bisa-bisa kita termakan mitos.
Kubus bisa menjadi rumah, rumah menjadi istana, istana menjadi Negara, Negara menjadi benua..dan seterusnya…
Selalu temukan logos di dalam dirimu, ubah frekuensi pikiran kita dari mitos ke logos, selalu.. selalu.. dan selalu, setiap kita akan terjebak dengan mitos. Karena dengan demikian, kita bisa berkembang dan terus belajar, dari sebuah pertanyaan yang menghasilkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Jangan puas dengan satu ketetapan saja, kecuali itu adalah Hukum Ketetapan Tuhan.

Kuliah Filsafat Pendidikan matematika oleh Dr. Marsigit
Kamis, 7 April 2011
Ruang 105, FMIPA-UNY.

No comments:

Post a Comment